samedi 28 juillet 2007

another note..
-----------------
Aku tidak sabar pulang dari Batu untuk segera ke toko buku gramedia terdekat di Jkt. Seorang berkata, pergi dan carilah namamu di dalam buku tulisan dosen itu. Seorang dosen yang punya nama begitu magnetis dan aku gemari sejak pertama kali aku bertemu orang “gila” itu di kelas bahasa prancis.

Posmodernisme. Pergulatan kaum intelektual Indonesia. Di dalam kata pengantarnya, terimakasih untuk “JP yang inspiratif dengan lakon hidupnya..” Mataku memburam sejenak dan aku lupa kondisi kafe semanggi yang sumpek menjelang buka puasa.

Campur aduk. Aku geli dan senang membayangkan kedekatan dua pelajar Indonesia, terlunta-lunta di negri orang, di kota tua prancis. Belajar bahasa dan budaya bangsa taklukkannya Napoleon. Aku si 16 tahun, terkesan, bengong, memprotes, marah, bertepuk tangan dan menguap di puluhan malam gadangan yang aku lalui dengan orang “gila” ini. Aku menyebutnya gila, karena memang saat itu pikiran-pikirannya terlalu gila buat aku si anak daerah. Terlalu galak terhadap dunia yang tadinya aku pikir hanya sebatas, lahir, sekolah, berkarya, berkeluarga, menua dan kembali ke Tuhan. Aku tertarik dengan kegilaaannya, apalagi saat diajak berteater di kota tua itu, bersajak, bernyanyi (!) dan melakoni peran dalam bahasa yang banyak kata saat itu aku belum paham betul dan lafal yang sulit buat lidah melayu kami. Aku sayang dengan kedekatan pikiran-pikiran kami, dan saat seseorang masuk dan merebut perhatian utamanya, bahkan saat agenda Tuhan yang lainnya membawa mereka mengais lagi ilmu ke sudut negara lainnya, aku tetap mengenang setiap diskusi-diskusi kami. Yang aku temukan sekilas tertulis di buku di hadapanku ini.

Aku bersedih, sekenanya aku kembali ke tanah air dan tak menemukan jejaknya. Berkali-kali setiap kali aku selesai membaca artikel-artikel lepas nya di kompas, tempo, dll, aku mencoba bertanya kepada operator, editor, wartawan dan siapa saja yang ada di jalur telfon saat itu, di mana si orang pintar itu? Tidak ada yang mau menjawab. Aku bersedih karena aku tahu dia sakit parah. Dia terus memeriahkan hidupnya dengan sajak-sajak kepada rekan-rekannya. Aku ingin bertemu dia, istri dan anak pertamanya, sekali saja. Aku sangat rindu mereka.

Dulu ia sempat berkata beberapa malam sebelum kita berpisah, “Ada satu karir dan peran yang cocok buat kamu. Dan aku harap suatu saat nanti kamu bisa menemukan peran itu karena aku tidak akan memberitahukannya kepadamu sekarang.” Aku ingin memeluk keluarga itu suatu hari nanti.. dan bertanya pada “pangeran”ku itu, sudah bisakah aku tahu apa peranku menurutmu?

Aucun commentaire: